Terbayar sudah dendamku, enam hari penuh hasrat tidurku slalu terganggu teriakan bekerku yang tak pernah telat sedikit pun untuk membangunkan ku jam 05.30 tepat, satu jam sebelumnya ku gunakan untuk membersihkan diri dan perjalanan menuju tempat kerjaku, jam 06.30 sudah mulai bekerja. Akhir pekanlah yang menjadi hari pembalasanku, aku lebih setia menemani kasur hijau kesukaanku daripada nonton TV di ruang depan, nge-mall atau ngrumpi di belakang tempat jemuran bersama teman2 kostku yang tujuan sebenarnya hanya mencari perhatian kost putra yang tepat berada di samping dapur belakang. Bagiku semua itu tak menarik, menyelami dunia mimpi lebih indah dan menyenangkan tak peduli dengan julukan yang diberikan teman2ku yaitu sebagai "Putri tiduran".
Aku menguap, menggeliat dan menggosok-gosok mataku, dari jendela kecil yang berada tepat di atas kepalaku terlihat langit sudah mulai gelap. Dari perutku terdengar suara krucukan tandanya protes karna jatah makan siangnya sudah lewat kuhabiskan menikmati indahnya dunia mimpi. Perlahan kuturuni tangga ranjang susun ku, dengan mata yang belum terbuka sempurna kumelangkah keluar, pasti nasi goreng Pak Mat sudah menunggu di bawah sana. Di depan tangga ku jumpai Mas Ali penjaga kost2anku, maklum orang yang mendengar nama kosku aja pasti akan bilang "wow..":.
"Di bawah ada nasi goreng ya Mas?"
tanyaku dengan masih menggosok-gosok mata
"Melek dululah non baru makan"
"he he he laper Mas"
Mas Ali hanya geleng-geleng kepala melihatku.
Segera ku ngeloyor kebawah membuka pintu gerbang, suara decitan gerbang besi yang karatan membuat Pat Mat yang tak jauh dari kostku menoleh begitu juga seorang pembeli menoleh padaku, seketika kesadaranku pulih yang tadinya baru 75% gini telah naik menjadi 100%.
Bukankah cewek itu kakaknya Ibie pacar backstreetku yang kamar nya tepat di depan jendela namun berbeda rumah, dan dia adalah satu2nya orang yang tau hubunganku dengan Ibie. Bila aku mengenalnya sih gak apa-apa, tapi bertegur sapapun aku tak pernah meskipun berpapasan di tengah jalan kami hanya saling diam. Rasanya kakiku seperti ada beban puluhan kilo hingga sulit kugerakan.
"Haruskah aku kembali?" tanyaku dalam hati
"Tidak" dia sudah melihatku pengecut sekali jika aku berbalik
Perlahan ku langkahkan kaki mendekati Pak Mat dan memesan satu bungkus nasi goreng, karna gang yang sempit mau tak mau aku harus berdiri menjajarinya. Hatiku dag dig dug tak karuan apa yang musti aku lakukan, ingin menyapanya enggan, mengajak ngobrol tak tau harus ku mulai dari mana. Akhirnya pada pilihan terjeleklah aku memihak, aku diam seribu bahasa di sampingnya begitupun dia, hingga yang lebih parah lagi, tak lama kemudian Ibie datang ia hanya tersenyum tipis padaku dan lagi-lagi mau tak mau harus berdiri di samping ku .Kutatap langit berharap ada bintang yang bisa ku ajak ngobrol hingga aku memiliki teman untuk ngobrol, tapi malam ini langit gelap tak ada satupun bintang yang terlihat. Kuarahkan pandangan pada ruang depan kostku tempat dimana teman2ku nonton TV bersama, berharap satu diantara mereka melongok kebawah memanggilku menyelamatkanku dari keadaan yang tak nyaman ini namun juga sia-sia mereka terlihat asyik bercanda dan serius melototi sinetron petang itu.
Tak terhitung sudah aku membeli nasi goreng Pak Mat, namun tak seperti petang ini Pak Mat meracik nasi gorengnya begitu lama dan rasanya aku juga berkali-kali melihat grakan-gerakan tangan Pak Mat yang mengaduk-aduk nasi dalam wajan, namun juga tak seindah petang ini hingga setiap gerakannya selalu menjadi perhatian kami. Tak ada satupun dari kami yang bersuara, mbaknya Ibie, Aku, Ibie berdiri berjajar hanya diam Bagai Tiga Patung Bisu.

