“Bud! Jorok kamu, mbok ya bawa sapu tangan, ngiler aja.” Bud-bud (baca: bat-bat) tertunduk diam dihadapanku.
“Hee..kamu marah ya bud? ok-ok sorry”
Kudekati dia kemudian kubelai bulu-bulunya yang lembut, namun demikian bud-bud masih saja tertunduk diam tak memperdulikanku.
“Bud senyum dong aku kan sudah minta maaf, eh… awas ya kalo kamu sampai lapor sama mama kamu aku jitak kepalamu”
Bud-bud, anjing kecil yang berbulu panjang itu semakin tertunduk tak berani menatapku, kuarahkan kepalan tinjuku tepat diatas kepalanya bergaya seakan-akan siap menonjoknya. Spontan saja bud-bud lari masuk kandang kembali mendekam menyembunyikan kepalanya diantara bulu-bulu ekornya.
Yah..itulah salah satu dari sisi kegilaanku, suka berbicara pada binatang, boneka, diary atau bahkan foto-foto. Memang agak sinting sih tapi 100% normal kok, kan persentase normalku kan 101% jadi normalnya 100% yang sedikit 1% sintingnya he..he..he…
Mungkin.. jika kebiasaanku itu kulakukan di jalur aman di kamar misalnya yang tak terlihat orang mungkin akan tetap baik-baik saja. Tapi kalo di umum? Nah, kejadian seperti itulah yang sering membuat merah pipiku asli tanpa tambahan blash on alias malu semalu-malunya.
Siang itu bus yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga, berhenti tepat didepanku, segera saja aku masuk mencari tempat duduk, hampir semua kursi telah terisi, tinggal beberapa saja yang kosong. Pandanganku tertuju pada kursi yang sebelahnya duduk seorang bule.
Tanpa permisi ba bi bu langsung saja aku duduk,
“Lumayan duduk bareng bule, tapi kok bulenya hitam ya, gak papa deh biar hitam tetap manis” ucapku dengan logat bahasa jawa.
Aku kira di Negara asing yang tak tau menau tentang bahasa jawa, aku akan aman menggunakan bahasa jawa tanpa kwatir orang bisa mengerti artinya. Ternyata aku salah.
“Gak apa-apa ya mbak biar hitamkan tetap manis” aku tersentak kaget bagai di sambar petir dibawah terik matahari. Jelas-jelas suara dengan logat jawa yang agak cedal itu berasal dari orang yang duduk di sebelahku.
Aku menoleh berusaha tersenyum, sebuah senyuman yang lebih layak di sebut meringis memamerkan gigi-gigiku yang seperti biji salak, meski sesungguhnya saat itu ingin sekali kututup mukaku dengan kantong kresek hitam.
“Kok bisa bahasa jawa” tanyaku dengan expresi wajah yang blog on (goblok mode on). Si bule hanya tersenyum menatap wajah merah kepiting rebusku yang tak bisa kusembunyikan.
Dan ternyata setelah cerita panjang lebar bule dari Italy ini pernah tinggal di Indonesia selama 2tahun meneliti kesenian jaranan semacam kuda lumping, katanya,
“Orang Indonesia hebat, bisa makan pecahan beling”
Aku hanya tersenyum, sambil berkata
“Untung saja bulenya tidak marah.”
End!
Hijab Shafiyyah - Jilbab Segi Empat Syar'i Murah Bagus
-
Bismillah, kami menawarkan kepada anti sekalian jilbab segi empat syar'i
dengan harga murah dan berkualitas insya Allah, produksi dari HIJAB
SHAFIYYAH.
uk ...
11 tahun yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar