Perbedaan Bukan Penghalang
Sayang aku ingin berbicara kepadamu
Tentang apa yang tengah aku rasakan
Ada apa, ada apa katakanlah semuanya
Ku kan dengarkan duhai cintaku
Bila nanti orang tuamu tak meridhoi dengan
Apa yang ku rasakan padamu
Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya
Begitu pun orang tuaku
Kau takkan tinggalkanku
Takkan pernah, sayangku
Janjimu janjiku untukmu
Sayup-sayup lagu Eren terdengar dari kejahuan suaranya timbul tenggelam hingga akhirnya hilang sama sekali.
Suasana di perpustakaan milik Ningseh nampak begitu tenang yang terdengar hanyalah gemericik air sungai yang terletak tak jauh dari perpustakaan serta suara berisik dedaunan yang dipermainkan angin. Meskipun letak perpustakaan Ningseh agak jauh dari rumah perkampungan penduduk namun perpustakaan itu tak pernah sepi dari pengunjung.
Di dalam perpustakaan terdengar lirih percakapan antara Ningseh dan Agun. Agun adalah seorang pemuda kota, awal kedatangannya ke desa itu sekedar berkunjung untuk menikmati pemandangan alam yang terkenal dengan pegunungnya yang sering di jadikan tujuan pendakian. Pertemuannya dengan Ningseh lah yang membuatnya bertahan didesa tersebut.
“Kamu benar-benar tidak bersedia ikut denganku Ning? sebenarnya apalagi sih yang kamu pikirkan? kalau cuma karena perpustakaan ini, aku bisa saja membuatkanmu yang jauh lebih besar nantinya untukmu, aku mohon Ning ikutlah bersamaku” Agun mengiba pada Ningseh gadis ayu yang telah menakhlukkan hatinya.
Sementara itu Ningseh masih saja sibuk merapikan kembali buku-buku yang berserakan, memilah-milah kemudian mengembalikannya pada rak-rak buku yang sejenis, seakan-akan tak mendengar ucapan Agun yang selalu setia menemaninya, Agun mengekor dibelakang Ningseh, berharap akan jawaban atas keinginannya dan sesekali menerima uluran buku dari Ningseh ikut meletakkannya di rak buku depannya.
“Ningseh!”
Tak mau dicueki, Agun berdiri tepat dihadapan Ningseh memandang lekat wajah pujaan hatinya.
“Sudahlah mas lupakan saja” Ningseh berbalik berusaha menghindari tatapan Agun.
“Kamu menyerah?, aku ingin menikah hidup bahagia denganmu Ning”
“Rasanya itu tidak mungkin mas kita berbeda ” jawab Ningseh tanpa menoleh pada Agun.
“Kamu lupa dengan apa yang sering kamu ajarkan pada anak-anak didikmu? bukankah kamu sering mengatakan bila sejatinya manusia itu sama derajatnya hanya keimananlah yang membedakannya dan semua itu hanya Allah yang mengetahuinya “
“Mas Agun sanggup meyakinkan hal demikian pada kedua orang tua mas?”
Agun menelan ludah mendengar perkataan Ningseh, ingatannya kembali pada hubungannya dengan kekasih pertamanya yang kandas ditengah jalan karena tak direstui oleh orang tuanya. Dan kini ia jatuh cinta pada gadis desa yang pastinya akan dipandang lebih rendah lagi oleh keluarganya.
“Kali ini aku takkan menyerah Ning aku akan lakukan apa saja untuk bisa bersamamu” kata Agun meyakinkan Ningseh.
“Sudahlah mas, lebih baik turuti saja orang tua mas, carilah gadis yang sepadan dengan mas”
“Tapi aku mencin….” ucapan Agun terputus, seorang pengunjung berdiri didepan pintu memanggil Ningseh.
Ningseh berlalu meninggalkan Agun yang terlihat sebal, melangkah menuju orang yang memanggilnya yang memintanya mencarikan sebuah buku, setelah memberikan buku yang diminta Ningseh kembali ke pekerjaannya tanpa mempedulikankan lagi Agun.
“Ningseh… besok aku terpaksa kembali ke kota ada pekerjaan mendesak yang harus aku selesaikan, kutunggu kau ditempat biasanya.”
Tanpa menunggu jawaban Ningseh Agun berlalu begitu saja, Ningseh menghela nafas panjang, dipandanginya Agun yang melangkah gontai keluar dari perpustakaan kecil miliknya, pandangan Ningseh kembali menerawang jauh melewati sawah-sawah kosong yang baru saja di panen yang terletak di samping perpustakaan yang juga menjadi rumah tempat tinggalnya, ada rasa sakit menyelinap menusuk hatinya merasakan akan kehilangan orang yang sebenarnya dicintainya.
***
“Ning…Ningseh!”
Ningseh tersentak melihat Asti sahabatnya sudah berdiri disampingnya.
“Melamun ya?”
Ningseh tak menjawab, hanya mendesah sembari melirik jam tangannya yang entah untuk keberapa kali dilakukannya.
“Sudah sana ..pergi, mumpung belum terlambat”
“Menurutmu aku harus menemuinya?”
“Temuilah dia, jangan sampai menyesal nantinya”
Ningseh terdiam menatap Asti
“Pergilah” ucap Asti yang kedua kalinya sembari mengangguk meyakinkan Ningseh.
***
Dengan bersusah payah akhirnya Ningseh sampai di station, ia berlarian tak mempedulikan orang-orang yang memperhatikannya heran. Tepat didepan dimana ia dan Agun dulu bertemu Ningseh berhenti, kereta melaju cepat melintas dihadapannya tanpa memberi kesempatan sedikitpun untuk bertemu Agun.
Ningseh terlambat, ia tertunduk lemah di bangku pinggiran rel kereta, bangku yang pernah ia duduki bersama Agun.
“Kak Ningseh ya?” seorang gadis kecil penjual nasi berdiri di hadapan Ningseh.
“Bagaimana adik bisa tau nama saya?”
“Ada titipan dari Kakak cakep untuk Kak Ningseh” gadis kecil itu menyerahkan sebuah amplop berwarna kebiruan pada Ningseh kemudian berlari meninggalkan Ningseh yang masih terpaku. Dari tulisannya Ningseh sudah bisa mengenali bahwa surat itu dari Agun, segera dibuka dan dibacanya dengan seksama,
Tiada yang salah dengan perbedaan
Dan segala yang kita punya
Yang salah hanyalah sudut pandang kita
Yang membuat kita terpisah
Karena tak seharusnya
Perbedaan menjadi jurang
Bukankah kita diciptakan
Untuk dapat saling melengkapi
Mengapa ini yang terjadi
Mestinya perbedaan bukan alasan
Untuk tak saling memahami
Harusnya kita bisa memberi jalan
Untuk satukan semua harapan,
Ningseh…takkan ada yang bisa pisahkan kita, nantikan aku kembali akan kuperjuangkan cintaku untuk bisa bersamamu.
Agun.
Ningseh tersenyum, syair lagu Tere yang dituliskan Agun untuknya cukuplah menenangkan hatinya, didekapnya erat surat dari kekasih hatinya dengan harapan ia kembali dengan kemenangan cinta untuknya.
End!
Hijab Shafiyyah - Jilbab Segi Empat Syar'i Murah Bagus
-
Bismillah, kami menawarkan kepada anti sekalian jilbab segi empat syar'i
dengan harga murah dan berkualitas insya Allah, produksi dari HIJAB
SHAFIYYAH.
uk ...
11 tahun yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar