Jumat, 13 Juli 2012

Indahnya Rencana-NYA (End)

Sesaat suasana menjadi sunyi keduanya saling terdiam sibuk dengan pikiran masing-,masing hingga akhirnya Ilmi kembali angkat suara, “Mas, ada yang ingin Ilmi sampaikan tapi janji Mas Rofiq takkan marah pada Ilmi kan?” Rofiq menatap Ilmi kemudian menggelengkan kepala pelan. Tarikan nafas Ilmi terasa begitu berat, perlahan dihembuskannya seolah berusaha menenangkan hatinya yang dipenuhi kebimbangan. “Apa yang ingin kau sampaikan padaku Il?” Rofiq menangkap kebimbangan Ilmi. Sekejap Ilmi memejamkan mata, berusaha mencari kekuatan untuk bisa mengungkapkan rahasia hatinya. “Sebenarnya semenjak Mas selalu hadir menenangkan Ilmi dulu, Ilmi mulai berharap banyak pada Mas, Ilmi kagum pada Mas, hingga saat ini pun Ilmi masih menyimpan nama Mas di hati Ilmi, sebenarnya Ilmi…. Ilmi suka sama Mas ” suara Ilmi pelan namun terdengar jelas di telinga Rofiq, ditatapnya Ilmi yang tertunduk dalam, nampak di sudut mata Ilmi terlihat basah. Rofiq masih tercengang mendengar ungkapan Ilmi, tak pernah ia mendungganya ternyata Ilmi pernah memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya bahkan hingga saat ini. “Tuhan… cobaan apalagi yang harus aku lalui, saat hatiku terluka oleh orang yang kucinta kenapa justru KAU datangkan dia Ya Allah, wanita yang pernah ada di hatiku pula, kenapa tidak sedari dulu Ya Allah saat cinta ini masih utuh untuknya, sekarang? Apa yang meski kulakukan, sedangkan hati ini telah dipenui oleh cinta yang lain Ya Robb.” Rofiq masih terdiam tanpa menjawab ucapan Ilmi. “Maafkan Ilmi Mas, ada masanya saat semuanya menjadi haram bagi Ilmi untuk mengungkapkan hal ini dan Ilmi tak ingin menyesal sebelum semua itu terjadi pada Ilmi, terserah Mas mengangap Ilmi wanita seperti apa dan Mas tak perlu menjawabnya, Ilmi hanya ingin Mas tau perasaan Ilmi sesungguhnya dan Ilmi takkan berharap lebih pada Mas Rofiq, Ilmi faham dengan perasaan Mas saat ini dan tak seharusnya Ilmi menambah beban Mas, Mas Rofiq nggak marahkan pada Ilmi?” Rofiq menggeleng, “maafkan aku Ilmi” hanya kata itulah yang diucapkan Rofiq. *** Semenjak kedatangan Ilmi beberapa hari lalu, keadaan Rofiq terlihat lebih baik meskipun belum melakukan banyak aktifitas seperti biasanya paling tidak setiap makan malam bersama, kursi Rofiq tak pernah lagi kosong. “Banyak perubahan pada Neng Ilmi, tidakkah kau menyukainya Fiq” Ibu Rofiq memulai obrolan, Suaminya berkali-kali berdehem memberi isyarat untuk tidak membahas soal itu, namun tak sedikitpun digubrisnya. “Bukankah setahu Ibu kamu dulu suka pada dia, kurang apa dia sudah cantik solekhah lagi?” Ibu Rofiq meneruskan. Namun tak sepatah kata pun keluar dari Rofiq, seakan makanan di piringnya lebih menarik daripada topik yang sedang dibicarakan Ibunya. “Bukannya Ibu tak mau tau dengan perasaanmu saat ini Fiq, Ibu sekedar mengingatkan jangan sampai nantinya kamu terlambat kemudian menyesal selamanya, Ibu yakin Neng Ilmi pasti bisa jadi istri dan Ibu yang baik bagi anak-anakmu kelak” Rofiq tercengang, pikirannya kembali pada ucapan Ilmi. “Ada massanya saat semuanya menjadi haram bagi Ilmi mengungkapkan semua hal ini dan Ilmi tak ingin menyesal sebelum semua itu terjadi” “Apa maksud ucapan Ilmi? gumam Rofiq dalam hati.” Mungkin memang benar cinta pertama takkan mudah dilupakan, dan entah apa yang saat ini ada difikiran Rofiq, dengan terburu-buru ia beranjak meninggalkan ruang makan, dilajukan cepat mobilnya, entah tiba-tiba saja ingin sekali ia menemui Ilmi secepat mungkin, ada kekwatiran saat mengingat Ilmi. *** Seharian Ilmi mengurung diri di kamar, makan malam yang selalu hangat dengan obrolan keluarganya pun ia lewatkan. Harapannya untuk bersama Rofiq yang selama ini ia semai dalam hatinya sebentar lagi akan layu kering sia-sia. Telah habis batas waktu yang diberikan Abahnya, ia harus menerima lamaran Zainal. Sebenarnya Zainal bukanlah pria yang buruk, ia teman kuliahnya yang banyak membantu saat ia berada di Negeri Jiran. Zainal tidak hanya mampu meluluhkan hati Abahnya hingga dengan senang hati selalu menerima kehadirannya, namun juga kata-kata bijaknya sering membuat Ilmi serba salah. Bisa saja Ilmi bilang ia memang sudah memiliki pilihan sendiri, namun tak sesederhana itu, Abahnya minta sesegera mungkin mengenalkan pilihannya sedangkan Ilmi sendiri tau orang yang dikasihinya jelas-jelas sudah mencintai orang lain. Ilmi benar-benar tak tahu harus berbuat apa, tak mungkin ia memaksa Rofiq orang yang sebenarnya dicintainya untuk mau menerima dirinya, tak ada harapan kecuali menggantungkan harapannya pada yang Maha Segalanya. Dan hari ini harapan itu telah pupus, Abahnya tertawa senang mendengar ucapan Ilmi atas kesediaannya menerima Zainal. Ilmi tersenyum, meski sebenarnya hatinya menangis namun demikian ia berusaha sabar dan ikhlas karena dengan begitulah semua akan terasa lebih mudah dilewati. Sesaat kemudian terdengar salam, melihat Rofiq yang datang, Abah Ilmi segera menyambut dan menyalaminya. Tanpa basa basi Rofiq mengutarakan niat kedatangannya, untuk melamar Ilmi. Telah difikirkannya, mungkin apa yang di katakan Ibunya memang benar. Sedangkan di balik pintu jantung Ilmi berdebar, tak sepatah kata pun ia lewatkan, hingga akhirnya hanya kata syukur yang ia mampu ucapkan, penantian dan harapan juga doanya selama ini tidak sia-sia. Rofiq pun menanggapi perpisahannya dengan Aryni adalah salah satu takdir-NYA yang mungkin memang sudah menjadi bagian hidupnya atau mungkin memang jalan Allah untuk mempertemukan dengan cinta pertamanya. Sub’hanallah.. ternyata dibalik rencana-NYA menyimpan banyak keindahan. End!

0 komentar:

Posting Komentar